Menu

Mode Gelap
Penguatan Layanan Kesehatan: Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung dan RS Graha Husada Tandatangani Perjanjian Kerja Sama FKIP Unila dan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Jalin Kerja Sama untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Gubernur Lampung Ajak Sinergi Sektor Jasa Keuangan dalam Buka Puasa Bersama: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan Gubernur Lampung Lantik Pj. Sekretaris Daerah: Harapan Baru untuk Masyarakat Lampung yang Sejahtera Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim: Siloam Hospitals Purwakarta Rayakan Ramadan dengan Komitmen Kesehatan Kapolres Lampung Timur Pimpin Latihan Pra Operasi Ketupat Krakatau 2025: Siapkan Kesiapsiagaan untuk Mudik Aman di Idul Fitri

Lampung

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Hadiri Acara Penyerahan Juara Lomba “Cawo Bubalah Lampung”

badge-check


					Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Hadiri Acara Penyerahan Juara Lomba “Cawo Bubalah Lampung” Perbesar

(TK),BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri acara “Cawo Bubalah Lampung” dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, di Gedung Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (22/5/2026).

Pada kesempatan itu, Gubernur Mirza menegaskan pentingnya budaya sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung.

Gubernur Mirza mengatakan pendidikan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga harus mampu menanamkan kecintaan terhadap budaya dan identitas daerah.

“Pendidikan bukan hanya soal belajar di sekolah, nilai rapor, atau mengejar prestasi akademik saja. Pendidikan juga tentang bagaimana anak-anak kita mengenal budaya, mencintai daerah, dan menjaga jati diri Lampung,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan Lampung menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh langkah yang dilakukan saat ini, baik dalam sektor ekonomi, industri, pariwisata, infrastruktur, maupun pendidikan.

Ia menjelaskan, budaya merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Lampung. Falsafah hidup masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, dinilai menjadi kekuatan yang menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.

Gubernur Mirza juga menekankan bahwa nilai Piil Pesenggiri sering disalahartikan sebagai sikap keras, padahal maknanya adalah menjaga martabat, memiliki rasa malu, dan semangat saling menolong antarsesama.

Ia menilai budaya Lampung selama ini berhasil menjadi perekat sosial, termasuk dalam keberhasilan program transmigrasi di daerah tersebut. Menurutnya, keterbukaan masyarakat Lampung membuat hubungan antarsuku dan agama tetap harmonis.

Lanjut, Gubernur Mirza mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat asli Lampung hanya sekitar 13 persen dari total 9,5 juta penduduk. Namun, ia menilai seluruh masyarakat yang tinggal dan mencintai Lampung merupakan bagian dari identitas Lampung itu sendiri.

“Nilai-nilai budaya inilah yang harus kita pertahankan hingga ratusan tahun ke depan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak perkembangan teknologi dan media sosial terhadap perubahan karakter generasi muda. Karena itu, peran keluarga dinilai sangat penting dalam menanamkan nilai budaya kepada anak-anak.

“Anak-anak hanya beberapa jam berada di sekolah. Selebihnya bersama keluarga. Karena itu, keluarga memiliki peran besar dalam menanamkan nilai budaya Lampung,” katanya.

Selain sebagai identitas daerah, jelas Gubernur Mirza, budaya juga dinilai memiliki potensi ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Berbagai kekayaan budaya Lampung seperti seruit, kain tapis, siger, dan tarian tradisional sebagai daya tarik wisata unggulan.

Gubernur Mirza juga mengapresiasi organisasi masyarakat dan komunitas budaya yang aktif melestarikan adat Lampung, termasuk Mighrul Lampung Bersatu (MLB).

Ia berharap gerakan pelestarian budaya dapat terus berkembang hingga tingkat kecamatan agar bahasa, adat istiadat, dan kesenian Lampung tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

“Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai pengingat bahwa anak-anak Lampung harus maju dalam pendidikan dan pemikirannya, tetapi tidak melupakan akar budayanya,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Mighrul Lampung Bersatu Dwita Ria Gunadi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian perempuan Lampung terhadap kelestarian bahasa daerah. Menurutnya, semangat kebangkitan nasional harus relevan dengan upaya menjaga akar budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

“Kebangkitan saat ini dimulai dari kesadaran bahwa identitas, ilmu pengetahuan, dan budaya adalah kekuatan utama bangsa. Melalui Lomba Cawo Bubalah dan kursus daring bahasa Lampung, kita sedang menjaga identitas generasi muda,” ujar Dwita Ria.

Dwita Ria menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi dari Instruksi Gubernur Nomor 4 Tahun 2025 mengenai program “Kamis Beradat”. Ia berharap kebijakan tersebut tidak hanya menjadi simbol seremonial, melainkan menjadi budaya yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung.

(*)

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tim Gabungan Kepolisian Sosialisasi Pencegahan Karhutla Door to Door di Kayong Utara

29 Agustus 2026 - 08:59 WIB

Ny. Tuti Irwan Pimpin Anjangsana Bhayangkari Ranting Purbolinggo, Berikan Dukungan untuk Ananda Arslya Putri

26 Agustus 2026 - 15:20 WIB

Pengacara Terlalu Cepat Melapor, Ketua Gepak Lampung: Jangan Sok Menggurui!

26 Agustus 2026 - 03:01 WIB

Temuan BPK Rp584,9 Juta, Tiga Pejabat Bawaslu Lampung Bungkam

24 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Bukan Lagi Isu! Suami JA Laporkan EH ke Polda Lampung, Skandal Hotel Guncang DPRD Bandar Lampung

24 Agustus 2026 - 07:57 WIB

Trending di Bandar Lampung