(TK),BANDAR LAMPUNG— Pemerintah Provinsi Lampung resmi merombak total sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Perubahan ini menandai berakhirnya dominasi faktor jarak dalam jalur zonasi, yang kini wajib disertai penilaian akademik.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Lampung dan ditegaskan langsung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung sebagai upaya menciptakan sistem seleksi yang lebih objektif, adil, dan transparan.

Dalam skema terbaru, jalur domisili atau zonasi yang memiliki kuota minimal 30 persen tidak lagi hanya mempertimbangkan kedekatan tempat tinggal. Seleksi kini dilakukan dengan mengombinasikan faktor wilayah dan kemampuan akademik siswa.
Untuk jenjang SMA unggulan, proses seleksi menggunakan hasil Tes Potensi Akademik (TPA). Sementara pada SMA reguler, penilaian didasarkan pada rata-rata nilai rapor. Adapun jarak tempat tinggal dan usia hanya digunakan sebagai faktor penentu tambahan apabila terdapat nilai yang sama.
Selain jalur domisili, pemerintah juga menetapkan empat jalur penerimaan dengan komposisi kuota baru. Jalur prestasi menjadi jalur terbesar dengan porsi 35 persen, yang menilai capaian akademik maupun non-akademik. Jalur afirmasi mendapatkan kuota 30 persen, diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu dan penyandang disabilitas. Sementara jalur mutasi dibatasi maksimal lima persen untuk perpindahan tugas orang tua atau anak tenaga pendidik.
Pemerintah juga telah menetapkan jadwal pelaksanaan SPMB 2026. Untuk SMA unggulan, pendaftaran dibuka pada 2 hingga 5 Juni 2026 dan diumumkan pada 11 Juni 2026. Sedangkan pendaftaran SMA reguler dan SMK berlangsung pada 15 hingga 19 Juni 2026, dengan pengumuman hasil seleksi pada 24 Juni 2026.
Seluruh proses pendaftaran akan dilakukan secara daring dan dipastikan bebas pungutan liar. Pemerintah menegaskan bahwa perubahan sistem ini bertujuan menghapus anggapan bahwa kedekatan jarak menjadi satu-satunya penentu kelulusan, sekaligus menjaga kualitas pendidikan di Lampung.
Dengan reformasi ini, persaingan masuk sekolah negeri dipastikan akan semakin ketat, karena siswa tidak hanya dituntut dekat secara geografis, tetapi juga unggul secara akademik.













