Menu

Mode Gelap
Penguatan Layanan Kesehatan: Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung dan RS Graha Husada Tandatangani Perjanjian Kerja Sama FKIP Unila dan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Jalin Kerja Sama untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Gubernur Lampung Ajak Sinergi Sektor Jasa Keuangan dalam Buka Puasa Bersama: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan Gubernur Lampung Lantik Pj. Sekretaris Daerah: Harapan Baru untuk Masyarakat Lampung yang Sejahtera Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim: Siloam Hospitals Purwakarta Rayakan Ramadan dengan Komitmen Kesehatan Kapolres Lampung Timur Pimpin Latihan Pra Operasi Ketupat Krakatau 2025: Siapkan Kesiapsiagaan untuk Mudik Aman di Idul Fitri

Lampung

MBG Picu Polemik: Uang Tunai atau Makanan? Pengamat Minta Evaluasi Menyeluruh

badge-check


					MBG Picu Polemik: Uang Tunai atau Makanan? Pengamat Minta Evaluasi Menyeluruh Perbesar

(TK)—-Bandarlampung–Belakangan, ramai usulan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi pelajar sebaiknya diberikan dalam bentuk uang tunai, bukan makanan. Hal itu menyusul terjadinya pelajar yang keracunan makanan dari program tersebut.

Namun, pengamat kebijakan publik dan akademisi Universitas Lampung Dedi Hermawan menyebutkan, sebagai usulan dari masyarakat hal itu merupakan sesuatu yang lumrah.

“Sebagai sebuah usulan dari masyarakat, itu sah-sah saja dan bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah terkait evaluluasi pelaksanaan program MBG. Usulan itu juga kan perlu dikaji oleh pemerintah. Saya sih menyoroti, itu salah satu opsi yang bisa ditawarkan,” kata Dedi, Selasa (23-9-2025).

Hanya saja, dia menilai, kesimpulan dari masalah program MBG ialah evaluasi yang menyeluruh.

“Tapi, yang paling penting kan sebenernya program yang sudah berjalan hampir setahun ini dievaluasi dulu secara menyeluruh, komprehensif dan mendalam. Supaya tahu dalam pelaksanaannya itu kelemahannya apa saja. Dicari dulu akar masalahnya, baru ditemukan solusinya. Nah apakah harus diganti uang tunai, ya itu kan tinggal bagaimana hasil dari evaluasi,” jelasnya.

Ia menyampaikan, hal yang paling tersorot dari kacamatanya ialah persoalan pengawasan.

“Karena kan, secara umum disorotinya program MBG ini kelemahan dari pengawasan. Jangan sampai kelemahan dipengawasan ini tidak diberi solusi yang tepat,” ujarnya.

“Artinya, solusinya ya pengawasan diperketat dari pelaksanaannya. Karena berbagai kejadian keracunan makanan itu berarti menandakan tidak adanya pengawasan atau kontrol pengujian terhadap bahan-bahan makanan. Harus dipastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk MBG itu dipastikan kondisinya baik, halal dan sehat,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut dia, pastikan standart pengolahannya juga aman, sehat. “Nah ini prakteknya sejauh mana, kalau banyak keracunan berarti selama ini ga berjalan pengawasan dibawahm,” kata dia.

Bahkan, dia menuturkan, jika tidak mendapat solusi yang tepat maka opsi lain pun hanya akan menimbulkan masalah baru.

“Kalau solusinya nanti juga tidak tepat, ada masalah baru, dikhawatirkan. Karena kalau solusi ini tidak tepat, masalahnya ga dituntaskan, kalaupun diganti dengan uang tunai pun akan timbul masalah baru lagi. Apakah uang Rp15 ribu itu tepat sasaran? Apakah standart gizinya itu sudah terpenuhi? Kalau di lapangan kemudian menyimpang lagi karena ga ada pengawasan, akhirnya sama. Mau dia makan bergizi gratis ataupun uang tunai, dua-duanya bisa tidak tepat sasaran,” tuturnya.

Dedi menegaskan, faktor pengawasan merupakan benang merah yang bisa menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya program tersebut.

“Itu karena problem pengawasan, soal ini harus dibenahi pedomannya, siapa yang mengawasi, SOP nya, ini harus diperketat. Dengan program apapun kalau pengawasannya lemah, ini akan berpotensi terjadi penyimpangan juga. Dikhawatirkan juga, pemberian uang tunai itu tidak menyelesaikan masalah. Dan bisa jadi tujuan utama dari MBG itu tadi tidak tercapai,” tegasanya.

Karena problem yang terjadi di dalam MBG tidak dituntaskan, maka dinilai percuma jika ada opsi lain. Karenanya, evaluasi total sangat diperlukan.

“Evaluasi menyeluruh, nanti setelah didiagnosa akan ketemu penyakitnya. Penyakit ini harus diobati dengan obat yang tepat. Maka yang terpenting evaluasi ini. Kalau sudah diketahui masalahnya baru cari solusi untuk memecah masalah itu tadi. Karena opsi itukan reaktif, kalau tidak melalui kajian yang mendalam nanti akan menimbulkan masalah lain,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

MTM Lampung Ungkap Dugaan Pelanggaran Serius di Proyek RS UIN Raden Intan, APBD 2025 Terancam Rugi

14 Januari 2026 - 11:24 WIB

Solar Bersubsidi Raib Setiap Hari di SPBU 24.341.08 Terbanggi Besar, Dugaan Mafia Pengecor Dibiarkan Bebas Beraksi

9 Januari 2026 - 05:17 WIB

Kwitansi Rp225 Ribu Distempel Sekolah, Kepala SMPN 44 Bandar Lampung Diam Saat Dimintai Klarifikasi

7 Januari 2026 - 05:27 WIB

Kerja Sama Media Diskominfo Bandar Lampung Disorot, IMF Nilai Janggal dan Berpotensi Langgar Prinsip Pengelolaan Anggaran

27 Desember 2025 - 05:44 WIB

Usai Dua Kali Mangkir, Arinal Datangi Kejati Lampung, Kuasa Hukum Bantah Kliennya Diperiksa

19 Desember 2025 - 02:29 WIB

Trending di Lampung

You cannot copy content of this page