(TK)Lampung— Realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Provinsi Lampung pada triwulan I tahun 2025 tercatat mencapai Rp651,6 miliar. Jumlah ini berasal dari 389 proyek investasi yang tersebar di berbagai sektor dan wilayah kabupaten/kota.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Lampung, Intizam, mengungkapkan bahwa dari total tersebut, sebanyak 404 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan lima tenaga kerja asing (TKA) telah terserap dalam proyek-proyek investasi ini.

“Realisasi penanaman modal asing di triwulan I 2025 mencapai Rp651.612.746.891, dari 389 proyek yang dilaksanakan,” ujar Intizam pada Jumat (23/5).
Sektor yang paling mendominasi realisasi PMA pada periode ini adalah industri makanan, dengan nilai investasi mencapai Rp231 miliar. “Realisasi investasi PMA berdasarkan sektor di triwulan I 2025 terbanyak berasal dari industri makanan, dengan penyerapan tenaga kerja lokal sebanyak 154 orang dari 72 proyek,” jelasnya.
Selain itu, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi juga mencatat angka signifikan dengan investasi Rp136 miliar dari 31 proyek, menyerap 33 tenaga kerja lokal. Sektor tanaman pangan, perkebunan, dan pertanian memberikan Rp128 miliar dari 32 proyek.
Lampung Tengah menjadi wilayah dengan realisasi PMA tertinggi di Lampung, mencatat nilai investasi sebesar Rp298 miliar melalui 46 proyek, dengan penyerapan 33 tenaga kerja lokal dan tiga tenaga kerja asing. Kota Bandar Lampung menyusul di posisi kedua dengan investasi Rp163 miliar dari 163 proyek yang mempekerjakan 50 tenaga kerja lokal.
Daerah lain seperti Lampung Timur mencatat Rp66 miliar, Lampung Selatan Rp44 miliar, dan Tanggamus Rp29 miliar. Pesisir Barat tercatat Rp16 miliar, Way Kanan Rp15 miliar, Tulang Bawang Rp13 miliar, Mesuji Rp2,4 miliar, dan Lampung Utara Rp1 miliar.
Daerah dengan nilai investasi di bawah Rp1 miliar antara lain Pringsewu Rp250 juta, Pesawaran Rp49 juta, Lampung Barat Rp9 juta, dan terendah di Kota Metro sebesar Rp2 juta.
Intizam juga menyampaikan bahwa berdasarkan negara asal penanam modal, Singapura mencatatkan kontribusi tertinggi sebesar Rp355 miliar, disusul Malaysia Rp155 miliar, Jepang Rp64 miliar, dan Australia Rp40 miliar.
“Kemarin, setiap kabupaten dan kota sudah membagi targetnya untuk triwulan selanjutnya, dan mereka juga sudah menyampaikan realisasinya untuk triwulan ini,” tutupnya.(***)













