(TK), Kemendikdasmen, melalui Direktorat Sekolah Menengah Atas (SMA), gencar mempercepat Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Menengah Atas.
Program ini merupakan amanat dari Inpres Nomor 7 Tahun 2025 dan bertujuan meningkatkan mutu sekaligus mengurangi kesenjangan pendidikan antar wilayah.

Untuk itu beberapa sekolah diberikan Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi SMA Tahun 2025.
Guna memastikan kelancaran penyaluran bantuan, Kemendikdasmen mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendampingan Percepatan Pelaksanaan Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi SMA Tahun 2025.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua tahap, Tahap XIII dan Tahap XIV, di Tangerang dan Cibinong pada 10–13 November 2025.
Bimtek diikuti oleh 561 sekolah penerima dari berbagai provinsi, termasuk Kepulauan Riau, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, dan Direktur SMA, Winner Jihad Akbar, hadir memberikan arahan.
Direktur Winner Jihad Akbar menekankan bahwa sinergi lintas pihak adalah kunci akuntabilitas dan percepatan pembangunan.
Kerjasama diperlukan mulai dari sekolah, dinas pendidikan, hingga balai penjaminan mutu.
Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa Program Revitalisasi bukanlah sekadar agenda pembangunan infrastruktur.
Namun program ini juga merupakan gerakan ekonomi yang memberdayakan masyarakat sekitar.
Program ini menekankan pelibatan aktif warga lokal melalui sistem swakelola yang memperkuat semangat gotong royong.
Pendekatan padat karya yang digunakan telah memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Berdasarkan temuan di lapangan, program ini telah memberdayakan masyarakat dan membuka lapangan kerja bagi sekitar 300 hingga 350 ribu tenaga kerja di seluruh Indonesia. .
Kepala SMA YPPK Santo Yohanes Paulus Kepi, Emanuel Paulus Metubun, mengapresiasi sistem swakelola ini.
Ia menjelaskan bahwa di sekolahnya terdapat empat marga yang bergantian bekerja sehingga dampak ekonominya dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Lebih dari sekadar fisik, revitalisasi bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berkualitas.
Wamen Fajar menekankan bahwa sekolah harus bisa menjadi ruang tumbuh yang sehat, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.
Sejalan dengan upaya pembangunan fisik, Kemendikdasmen juga mempercepat digitalisasi pembelajaran.
Hingga 10 November 2025, sebanyak 150.000 Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital telah didistribusikan.
Bahkan sekolah di daerah terpencil seperti Pulau Sembilan, Kalimantan Selatan, akan menerima IFP.
Sekolah tersebut nantinya bisa terhubung dengan Starlink, memastikan akses pembelajaran setara.
Komitmen pemerintah terhadap program ini terbukti dari alokasi dana Rp16,9 triliun untuk lebih dari 16 ribu sekolah di tahun 2025.
Kemudian juga telah disiapkan Rp 14 triliun untuk keberlanjutan di tahun 2026.
Dukungan ini membuahkan hasil positif; survei menunjukkan bahwa dari masyarakat yang mengetahui program ini, 79 persen menyatakan puas atau sangat puas.
Ini menjadikannya sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden dengan tingkat kepuasan tertinggi.
Kepala SMAN Binino di NTT, Imelda Nenad, menambahkan, “Bagi kami di daerah tertinggal, Revitalisasi Satuan Pendidikan adalah rahmat besar.”
Bimtek ini diharapkan dapat mempercepat penyelesaian revitalisasi SMA sesuai target pada pertengahan Desember 2025. (*)











